Thursday, April 22, 2010

Gimana kalau ada dua yah.....

*ada lagu ttg binatang2 di space toon... terus terakhirnya ada kalimat 'ciptaan Tuhan'*
Isya: kok ciptaan Tuhan?
Bunda: Iya.. itu semua yang bikin kan Tuhan, bukan cuma pelangi yang dibikin Tuhan. Makanya isya terimakasih dong sama Tuhan, kan udah dibikinin semuanya
Isya: Kalau enggak terimakasih emang nanti kenapa?
Bunda: *panjaaaang dah jawaban gue....sambil gelegepan itu juga*

*mau coret2 di dinding ruang tamu*
Bunda: Isya! jangan dong! kan bunda udah bilang, coret-coretnya di kamar isya aja!
Isya: kalau coret-coretnya enggak di kamar isya emangnya nanti jadi kenapa?
Bunda: *teteeep panjaaang dan gelegepan*

*setelah mempertanyakan semua dengan 'kenapa'... tau2 ada iklan sampo yang nawarin kemasan barunya hemat hingga 40%*
Isya: kenapa 40%?
Bunda: eeeeng........ soalnya kalau 30% kedikitan, kalau 50% kebanyakan
Isya: iya, tapi kenapa 40%? kenapa enggak seribu persen aja?
Bunda: soalnya nanti kebanyakan *untung ada iklan lain yang dia tanyain 'kenapa'...... walaw kalau dipikir2, ya sama aja, gak untung2 amat juga*


*liat omas pake wig di acara super family*
Isya: kenapa rambutnya putih semua?
Bunda: dia pake wig, isya tau gak wig itu apa?
Isya: rambut yang putih semua?
Bunda: rambut palsu, ada yang putih semua, ada juga yang biru, semua warna ada
Isya: hitam?
Bunda: ada
Isya: hijau?
Bunda: ada
Isya: merah?
Bunda: ada! semua warna deh pokoknya, yang warna-warni juga ada
Isya: pink?
Bunda: ada
Isya: abuabu?
Bunda: ada
Isya: putih?
Bunda: ya kan tadi bunda udah bilang.... adaaaaaa....
Isya: biru?
Bunda: tadi kan udah syaaaaa *garokgarok ubin*
Isya: merah?
Bunda: hwaaaaaa......leave me aloneeeeeee
Isya: hijau?

(review) My Name is Khan




Kapan yah terakhir kali gue nonton berdua bang kribo…………. Kayaknya 31 desember 2008 deh. Waktu itu kita berdua bisa pulang cepet dari kantor, nyempet-nyempetin nonton ke blitz GI, milih film apa aja yg ada, Bedtime story pun jadi, yang penting bisa nonton berdua sambil pegangan tangan kikikikik….. Filmnya std banget buat bunda, boro-boro lucu, tapi berhub si ayah abis makan ‘brownies ajaib’ di kantornya, dia mah ketawa gak karuan, doh!

Habis itu gak pernah nonton berdua lagi. Gak bisa dibilang gak ada kesempatan samsek sih, tapiiiiii….. gak bisa aja rasanya ninggalin eneng buat nonton berdua doang, seperti yang dulu pernah tertulis di sini Hingga sekitar sebulan yang lalu, si eneng kekeuh pengen ikut abah n eni ke tangerang n ke Bekasi. Berhub rute panjang gila, dijamin si eneng masih lama pulangnya…. Bang kribo pun mengajukan ide cemerlang buat kencan di bioskop. Gak ada beban perginya, secara dalam hal ini si eneng yang ‘ninggalin’ aybund, bukan sebaliknya.

Paling asik ya margo platinum. Paling deket sih ke 21plaza depok, depan terminal. Tapi berhub filmnya gak jauh dari Arisan Brondong, Pocong Perawan, Kuntilanak Datang Bulan (eh bener gak sih itu judul2 pilem?) jadi aybund ogeng bener dah, bukan apa-apa, pelem-pelem kyk gitu mah udah kita tonton semua wagagagag…..

Akhirnya, pilihan tontonan jatuh ke My Name is Khan, penasaran aja mengingat beberapa resensi yang pernah gue baca.

Melupakan semua resensi, in my humble opinion… we should salute the original story writer… and together with him (or her?) lets curse the producer, script writer and talent artist! May you guys burn in Hell-i-wood!

Ide besar ceritanya sungguh cemerlang. Mengalirkan sebuah konflik dalam track alami yang ‘dijaga’ seorang penderita Autis bernama Khan. Khan adalah seorang muslim India yang kemudian migrasi ke Amerika Serikat. Seperti kita ketahui, posisinya begitu rawan konflik. Baik di India maupun di Amerika Serikat, muslim bukanlah sebuah golongan yang bisa bebas menenteng samurai, mengintimasi, dan bahkan, membunuh seseorang sambil menyerukan nama Tuhan, lalu melenggang begitu saja dengan kepala tegak bak seorang pahlawan selesai berjuang.

Intimidasi, diskriminasi, atau sekedar tatapan curiga bukanlah barang aneh bagi muslim dalam posisi Khan. Tidak hanya dari orang selain muslim, tapi juga dari saudara seiman. Dan semuanya dipertanyakan oleh Khan dalam ‘kenaifan’ seorang penderita autis. Maka, dibalik ‘kenaifan’ tersebut, film ini mampu bercerita secara ‘naif’ pula, dalam kepolosan hati yang bersih, simple, dan menjadi terasa begitu tak menggurui.

Salah satu adegan menyentuh adalah ketika Khan kecil melihat konflik antar muslim dan hindu di India, kemudian dia mengikuti omongan tetangganya sesama muslim yang mengutuk umat hindu. Dengan segera, ibunya mengambil buku tulis, menggambarkan orang sedang memukul orang lain dengan tongkat yang kemudian Khan simpulkan sebagai orang jahat. Sebuah gambar lagi ditorehkan ibunya di buku yang sama, yang menggambarkan orang memberi lollipop pada orang lain, yang disimpulkan Khan sebagai orang baik. Dan ibunya menutup dengan… hanya ada dua jenis orang di dunia ini, baik dan jahat! Dia bisa muslim, bisa hindu, bisa juga agama, jenis kulit, atau warga Negara lain. Simple, cenderung naïf, tapi siapa bisa menyangkal?

Selain itu, ada sebuah quote yang juga begitu terasa menyengat, salah satunya menyatakan: (sorry, sayah bukan pengutip yang baik, jadi seingetnya aja ya kalimatnya) Orang di dunia barat membagi masa dalam dua bagian, sebelum masehi dan sesudah masehi, tapi setelah tragedy 9/11 mereka memulai sebuah masa yang baru. Setidaknya begitulah dalam dunia Khan dan keluarganya yang adalah imigran muslim di Amerika Serikat.

Nah di sini salah satu ‘keajaiban’ Bollywood (yang kayaknya diadaptasi, kalau tidak mau disebut ditiru, oleh sinetron Indonesia) entah kenapa nama Khan begitu identik dengan nama muslim di sebuah lingkungan yang sangat ‘ngamerika’. Okeh…. Di India boleh lah, seperti mungkin di Sumatra Utara orang dapat mengasosiasikan nama keluarga seseorang dengan sebuah agama. Tapi di luar itu kan tidak banyak yang ngeh toh? Kedua, hampir semua tokoh kunci adalah orang India. Dua reporter kampus, seorang reporter dari stasiun televis ternama, sama siapa lagi ya? Lupa dah… intinya, orang India top banget lah, ada di berbagai posisi strategis di Amerika sana.

Rasa bollywood juga begitu kental, tidak hanya dari scene-scene kecil macam: cewek cantik yang sedang ketawa dalam slow motion, rambutnya berkibar-kibar, terus tau-tau bengong pas ketauan diliatin, terus ketawa lagi… syet daaaah ada berapa kali aja tuh scene kyk gitu (opini dikontaminasi oleh rasa ngiri karna rambut cuma bisa kiwir-kiwir, boro-boro kibar-kibar). Selain itu juga dalam hal yang lebih prinsip seperti multi-ending yang memang sepertinya begitu kental mengalir dalam darah sutradara-sutradara bollywood….. and I bet, some of them are related to the Punjabis! Banyaaaaak dah adegan yang aturan tuh udah aja gituh, tutuuuuup, eh dia masih ada terusannya… haruslah menutup dengan menolong Mama Jenny yang kebanjiran, mesti keluar RS sambil dieluk-elukan dulu lah, abis gitu masih kuduuuu aja gitu salaman sama Obama….capew dew! Padahal pointnya udah nyampe dari kapan tau. Tapi entah karna takut penontonnya kurang pinter, atau emang kru filmnya saling menyayangi sehingga gak mau buru-buru selesai shooting terus bubar, jadilah happy ending terus menerus digelar.

Speaking about penonton yang (dikhawatirkan) kurang pinter, para pembuat My Name is Khan juga merasa perlu untuk menjabarkan dengan symbol-simbol ‘dangkal’ mengenai banyak hal. Seperti kerukunan antar umat manusia digambarkan dengan menolong Mama Jenny dan warga kota lainnya yang terperangkap badai di dalam gereja. Para penolong entah bagaimana berhasil masuk ke daerah terisolir, beberapa memakai atribut muslim, beberapa dari etnis berkulit putih, beberapa berkulit hitam, semua lagi jalan menembus banjir yang sampai sedada. Dan mereka bekerja, ngangkat-ngangkat barang, di bawah badai yang konon mematikan, sambil terus disiram hujan, oh iya… dengan diiringi lagu-lagu pembawa perasaan dan dalam slow motion mode on cencunya…… Dan mereka pikir, mereka sudah jauh dari bollywood dengan tidak membiarkan khan dan kajol bernyanyi dan menari! Yeah rite!

Oh iya, satu lagi…. The talent agent! Siapapun orangnya, harusnya dia belajar banyak pada talent agent yang menemukan perempuan aneh yang joget-joget aneh di iklan tori cheese crackers bersama dua pahlawan bertopeng aneh di belakangnya! Setidak-tidaknya mereka begitu menyebalkan sampai membuat gue inget tori cheese crackers setiap kali lewat lorong snack di supermarket, walaupun itu tidak berarti gue mau membelinya, tapi dalam teori red ocean dunia periklanan, takdirnya sebagai iklan tercapai, menancapkan produknya dalam ingatan penonton iklan. Sementara di my name is Khan, talent agent bahkan tidak dapat memilih Obama yang setidaknya, mirip presiden, dan bukan mirip agen asuransi kemaren sore….. masih jauh lebih meyakinkan Obama yang kuliah di BSI deh! Belum lagi orang FBInya yang lebih mirip orang-berusaha-mirip-agen-FBI-dan-gagal! Belum lagi adegan Khan diinterogasinya…. Yeilaaaah gak sekalian lagi disetrum dengan posisi nungging dengan background lampu disko aje, biar sekalian gak meyakinkan pol! Dan walaupun akting Sharuk Khan sebagai penderita Autis kelihatan cukup meyakinkan, tapi tolong deh… totalitasnya sebagai aktor, mbok ya otot diumpetin dulu, badan digembyorin dulu kek, tiru dong Sly di film apaan tuh yang dia jadi polisi budek… dia aja yang mantan Rambo rela ngegemukin badannya buat peran itu. Atau paling enggak sutradaranya kek menghilangkan adegan di mana ototnya Khan terekspos. Langsung buyar semua aktingnya sebagai penderita Autis begitu Khan ngangkat kedua lengan ‘bergunung-gunung’nya.

Dan walaupun gue begitu mengapresiasi kemampuan pemilik ide ceritanya yang mampu menggambarkan perspektif muslim dalam konflik ini dengan sangat lugas, sederhana, dan ‘masuk akal’, tapi toh ceritanya juga kurang orisinil…. Sebelumnya, kita bisa ngeliat ide serupa dalam Forrest Gump. Mempertanyakan dunia dalam perspektif orang dengan kbutuhan khusus, yang ujungnya membuat kita, yang katanya tidak punya kebutuhan khusus ini, jadi merasa... ternyata dunia bisa terlihat sesederhana itu, kalau kita mau menggeser sudut pandang.

Well… setidaknya kami punya waktu untuk bergandengan tangan sepanjang film… *wink wink*

note: foto hasil gugling dari mana tau, lupa euy.. maap yah yg punya

Tuesday, April 20, 2010

My Name is Khan

Rating:
Category:Movies
Genre: Drama
Kapan yah terakhir kali gue nonton berdua bang kribo…………. Kayaknya 31 desember 2008 deh. Waktu itu kita berdua bisa pulang cepet dari kantor, nyempet-nyempetin nonton ke blitz GI, milih film apa aja yg ada, Bedtime story pun jadi, yang penting bisa nonton berdua sambil pegangan tangan kikikikik….. Filmnya std banget buat bunda, boro-boro lucu, tapi berhub si ayah abis makan ‘brownies ajaib’ di kantornya, dia mah ketawa gak karuan, doh!

Habis itu gak pernah nonton berdua lagi. Gak bisa dibilang gak ada kesempatan samsek sih, tapiiiiii….. gak bisa aja rasanya ninggalin eneng buat nonton berdua doang, seperti yang dulu pernah tertulis di sini ( http://zeeva-athena.blogspot.com/2008/01/mad-about-you.html ... eh kalo review mah gak bisa ngelink yah?). Hingga sekitar sebulan yang lalu, si eneng kekeuh pengen ikut abah n eni ke tangerang n ke Bekasi. Berhub rute panjang gila, dijamin si eneng masih lama pulangnya…. Bang kribo pun mengajukan ide cemerlang buat kencan di bioskop. Gak ada beban perginya, secara dalam hal ini si eneng yang ‘ninggalin’ aybund, bukan sebaliknya.

Paling asik ya margo platinum. Paling deket sih ke 21plaza depok, depan terminal. Tapi berhub filmnya gak jauh dari Arisan Brondong, Pocong Perawan, Kuntilanak Datang Bulan (eh bener gak sih itu judul2 pilem?) jadi aybund ogeng bener dah, bukan apa-apa, pelem-pelem kyk gitu mah udah kita tonton semua wagagagag…..

Akhirnya, pilihan tontonan jatuh ke My Name is Khan, penasaran aja mengingat beberapa resensi yang pernah gue baca.

Melupakan semua resensi, in my humble opinion… we should salute the original story writer… and together with him (or her?) lets curse the producer, script writer and talent artist! May you guys burn in Hell-i-wood!

Ide besar ceritanya sungguh cemerlang. Mengalirkan sebuah konflik dalam track alami yang ‘dijaga’ seorang penderita Autis bernama Khan. Khan adalah seorang muslim India yang kemudian migrasi ke Amerika Serikat. Seperti kita ketahui, posisinya begitu rawan konflik. Baik di India maupun di Amerika Serikat, muslim bukanlah sebuah golongan yang bisa bebas menenteng samurai, mengintimasi, dan bahkan, membunuh seseorang sambil menyerukan nama Tuhan, lalu melenggang begitu saja dengan kepala tegak bak seorang pahlawan selesai berjuang.

Intimidasi, diskriminasi, atau sekedar tatapan curiga bukanlah barang aneh bagi muslim dalam posisi Khan. Tidak hanya dari orang selain muslim, tapi juga dari saudara seiman. Dan semuanya dipertanyakan oleh Khan dalam ‘kenaifan’ seorang penderita autis. Maka, dibalik ‘kenaifan’ tersebut, film ini mampu bercerita secara ‘naif’ pula, dalam kepolosan hati yang bersih, simple, dan menjadi terasa begitu tak menggurui.

Salah satu adegan menyentuh adalah ketika Khan kecil melihat konflik antar muslim dan hindu di India, kemudian dia mengikuti omongan tetangganya sesama muslim yang mengutuk umat hindu. Dengan segera, ibunya mengambil buku tulis, menggambarkan orang sedang memukul orang lain dengan tongkat yang kemudian Khan simpulkan sebagai orang jahat. Sebuah gambar lagi ditorehkan ibunya di buku yang sama, yang menggambarkan orang memberi lollipop pada orang lain, yang disimpulkan Khan sebagai orang baik. Dan ibunya menutup dengan… hanya ada dua jenis orang di dunia ini, baik dan jahat! Dia bisa muslim, bisa hindu, bisa juga agama, jenis kulit, atau warga Negara lain. Simple, cenderung naïf, tapi siapa bisa menyangkal?

Selain itu, ada sebuah quote yang juga begitu terasa menyengat, salah satunya menyatakan: (sorry, sayah bukan pengutip yang baik, jadi seingetnya aja ya kalimatnya) Orang di dunia barat membagi masa dalam dua bagian, sebelum masehi dan sesudah masehi, tapi setelah tragedy 9/11 mereka memulai sebuah masa yang baru. Setidaknya begitulah dalam dunia Khan dan keluarganya yang adalah imigran muslim di Amerika Serikat.

Nah di sini salah satu ‘keajaiban’ Bollywood (yang kayaknya diadaptasi, kalau tidak mau disebut ditiru, oleh sinetron Indonesia) entah kenapa nama Khan begitu identik dengan nama muslim di sebuah lingkungan yang sangat ‘ngamerika’. Okeh…. Di India boleh lah, seperti mungkin di Sumatra Utara orang dapat mengasosiasikan nama keluarga seseorang dengan sebuah agama. Tapi di luar itu kan tidak banyak yang ngeh toh? Kedua, hampir semua tokoh kunci adalah orang India. Dua reporter kampus, seorang reporter dari stasiun televis ternama, sama siapa lagi ya? Lupa dah… intinya, orang India top banget lah, ada di berbagai posisi strategis di Amerika sana.

Rasa bollywood juga begitu kental, tidak hanya dari scene-scene kecil macam: cewek cantik yang sedang ketawa dalam slow motion, rambutnya berkibar-kibar, terus tau-tau bengong pas ketauan diliatin, terus ketawa lagi… syet daaaah ada berapa kali aja tuh scene kyk gitu (opini dikontaminasi oleh rasa ngiri karna rambut cuma bisa kiwir-kiwir, boro-boro kibar-kibar). Selain itu juga dalam hal yang lebih prinsip seperti multi-ending yang memang sepertinya begitu kental mengalir dalam darah sutradara-sutradara bollywood….. and I bet, some of them are related to the Punjabis! Banyaaaaak dah adegan yang aturan tuh udah aja gituh, tutuuuuup, eh dia masih ada terusannya… haruslah menutup dengan menolong Mama Jenny yang kebanjiran, mesti keluar RS sambil dieluk-elukan dulu lah, abis gitu masih kuduuuu aja gitu salaman sama Obama….capew dew! Padahal pointnya udah nyampe dari kapan tau. Tapi entah karna takut penontonnya kurang pinter, atau emang kru filmnya saling menyayangi sehingga gak mau buru-buru selesai shooting terus bubar, jadilah happy ending terus menerus digelar.

Speaking about penonton yang (dikhawatirkan) kurang pinter, para pembuat My Name is Khan juga merasa perlu untuk menjabarkan dengan symbol-simbol ‘dangkal’ mengenai banyak hal. Seperti kerukunan antar umat manusia digambarkan dengan menolong Mama Jenny dan warga kota lainnya yang terperangkap badai di dalam gereja. Para penolong entah bagaimana berhasil masuk ke daerah terisolir, beberapa memakai atribut muslim, beberapa dari etnis berkulit putih, beberapa berkulit hitam, semua lagi jalan menembus banjir yang sampai sedada. Dan mereka bekerja, ngangkat-ngangkat barang, di bawah badai yang konon mematikan, sambil terus disiram hujan, oh iya… dengan diiringi lagu-lagu pembawa perasaan dan dalam slow motion mode on cencunya…… Dan mereka pikir, mereka sudah jauh dari bollywood dengan tidak membiarkan khan dan kajol bernyanyi dan menari! Yeah rite!

Oh iya, satu lagi…. The talent agent! Siapapun orangnya, harusnya dia belajar banyak pada talent agent yang menemukan perempuan aneh yang joget-joget aneh di iklan tori cheese crackers bersama dua pahlawan bertopeng aneh di belakangnya! Setidak-tidaknya mereka begitu menyebalkan sampai membuat gue inget tori cheese crackers setiap kali lewat lorong snack di supermarket, walaupun itu tidak berarti gue mau membelinya, tapi dalam teori red ocean dunia periklanan, takdirnya sebagai iklan tercapai, menancapkan produknya dalam ingatan penonton iklan. Sementara di my name is Khan, talent agent bahkan tidak dapat memilih Obama yang setidaknya, mirip presiden, dan bukan mirip agen asuransi kemaren sore….. masih jauh lebih meyakinkan Obama yang kuliah di BSI deh! Belum lagi orang FBInya yang lebih mirip orang-berusaha-mirip-agen-FBI-dan-gagal! Belum lagi adegan Khan diinterogasinya…. Yeilaaaah gak sekalian lagi disetrum dengan posisi nungging dengan background lampu disko aje, biar sekalian gak meyakinkan pol! Dan walaupun akting Sharuk Khan sebagai penderita Autis kelihatan cukup meyakinkan, tapi tolong deh… totalitasnya sebagai aktor, mbok ya otot diumpetin dulu, badan digembyorin dulu kek, tiru dong Sly di film apaan tuh yang dia jadi polisi budek… dia aja yang mantan Rambo rela ngegemukin badannya buat peran itu. Atau paling enggak sutradaranya kek menghilangkan adegan di mana ototnya Khan terekspos. Langsung buyar semua aktingnya sebagai penderita Autis begitu Khan ngangkat kedua lengan ‘bergunung-gunung’nya.

Dan walaupun gue begitu mengapresiasi kemampuan pemilik ide ceritanya yang mampu menggambarkan perspektif muslim dalam konflik ini dengan sangat lugas, sederhana, dan ‘masuk akal’, tapi toh ceritanya juga kurang orisinil…. Sebelumnya, kita bisa ngeliat ide serupa dalam Forrest Gump. Mempertanyakan dunia dalam perspektif orang dengan kbutuhan khusus, yang ujungnya membuat kita, yang katanya tidak punya kebutuhan khusus ini, jadi merasa... ternyata dunia bisa terlihat sesederhana itu, kalau kita mau menggeser sudut pandang.

Well… setidaknya kami punya waktu untuk bergandengan tangan sepanjang film… *wink wink*

note: foto hasil gugling dari mana tau, lupa euy.. maap yah yg punya

Monday, April 19, 2010

Why its so hard to pray with her


ayah! sholat dong.. jangan moto2 aja, nakal nih ayah!


#Karena dia sering ngajak balap mukena *diucapkan dan dilakukan seperti balap karung*

#Karena dia selalu mengucapkan Allahuakbar dengan (seolah2) sangat khusu' *eeeng sebenernya ini bagus sih yah, tapi ibu2 yg anak balitanya begini juga pasti sholatnya jadi gak khusu', bawaannya pengen cengarcengir juga deh*

#Karena begitu sampai sami` allahu liman hamidah, dia suka bilang... "la...la...la...la...la...la...daaaaah" atau "na..na...na...na..na..na...daaaah" atau "awalilawaliwalidaaaaaaah"


bundaaaaa... maapin isya yaaaah... maapin gak? kalo enggak isya makan nih tangannya!


#Karena dia suka menggumamkan lagu-lagu semacam nina bobo atau twinkle2... seolah2 itu bacaan sholat

#Karena dia suka gak bisa diem, ngoceh, nyanyi, nanya2 sambil lompat2 dan lain sebagainya...

#Karena biar pun dia yg gak bisa diem...dia bakal marahin george *monyet di curios george yg merupakan gambar di spreinya* "george! bisa diem dong! kan lagi sholat! george nakal nih! Jangan lompat2 kalo sholat, diem aja, denger gak?!" *ini omongannya masih panjang, bisa sampe selesai sholat 4 rakaat gak berenti2 ngomelin george*





sekali-kalinya dia sholat dengan tenang, tak mengeluarkan suara sedikit pun... pas ayah balik badan.... ternyata dia ketiduran

Hijrah part3

Setelah hijrah ke depok 2 tahun yang lalu, dan bertekad untuk segera hijrah lagi (yaiyalaaaah rumah kontrakan, mau diusir satpol PP kalo gak hijrah-hijrah???), akhirnya nasib membawa kami to another home….

Telat setahun sih dari jadwal, tapi ini karena perubahan rencana secara mendasar. Tadinya, kita berniat ngontrak setahun aja di depok terus memanfaatkan jatah tanah di Cibinong. Untuk itu, beberapa kali kami lakukan simulasi, gimana PP kerja Jakarta-Cibinong… dan kami menyerah…. Kok jauh bener yah, entar ninggalin eneng dari jam berapa sampai jam berapa dong tiap hari? Hwaaaa…. Kayaknya gak nyanggup euy. Apalagi, pada saat itu, bunda belum sampai pada keputusan untuk jadi ibu-ibu rumahan sajah. Jadi ngebayangin eneng dipegang orang lain dalam kurun waktu yang begitu panjang setiap harinya, kok agak-agak gak rela.

Akhirnya rencana berbelok, untuk tetap jadi warga Walikota yang kekerapan wajahnya muncul di muka public bisa diadu sama cover boy, Pak Nurmahmudi tercintah. Kami memutuskan, untuk berlabuh di kota belimbing ini saja. Awalnya masih pasrah, ngontrak bertahun-tahun lagi gak papa lah, kita jabanin, paling jelek ya pensiun baru boyongan ke Cibinong. Tapi alhamdulillah nasib kami dibawa ke arah yang lebih baik. Pokoknya rezeki ada aja sampai cukup (cendrung pas-pas-an :p) untuk jadi DP sebuah rumah. Letaknya masih di komplek yang sama dengan Eni, beda cluster doang. Rumahnya, kalau kata Abah, deket ke mana-mana, ke kamar mandi deket, ke kamar deket, ke ruang tamu deket, ke dapur…. Eeeeng….. belom ada, mesti dibikin dulu waktu itu… tapi pas udah jadi, ya tetep aja deket. Tipenya: minimalis melankolis, saking minimalisnya kadang-kadang suka mellow…..kapaaaan gitu kebeli yang maximalis kikikikik. Tapi sampai saat ini, enggak pernah berhenti bersyukur diberi kenikmatan segini minimalisnya ….wagagagaga… ampun Tuhaaaan… becandaaaa….. diberi kenikmatan begini besar maksudnya Setelah bertahun-tahun jadi kontraktor, rasanya nikmaaat punya rumah sendiri. Walaupun konsekuensinya adalah kudu nyetor dalam jumlah menyayat hati (lebay) selama…. 15 TAHUN SAJAH!!! Ampun lagi Tuhaaaaan… bukan gak bersyukur, cuman agak ngilu gituh kalo pas kudu nyetornya.

Seperti biasa, acara hijrah tidak pernah terasa biasa buat kami para pemalas. Packing dan unpacking itu kayak neraka dunia. Untunglah selalu ada penjual plastik kresek kikikik…. Pokoknya judulnya, barang keangkat, segala bentuk wadah digunakan, semua barang asal blek-blek-blek dimasukin, boro-boro diatur berdasarkan ruang, fungsi, apalagi warna (dih lagi ngapain dipisah-pisahin warna). Begitu pun pas unpacking, makan waktu beberapa minggu sampai semua bener-bener ditaro di tempatnya. Mana mah dulu di rumah kontrakan cuma satu kamar yang kita pakai, yang satu jadi gudang, jadi ada lah penempatan buat barang-barang disimpen-ganggu-dibuang-sayang. Sementara sekarang, si eneng udah dapet kamar sendiri, jadi gak ada space bernama gudang. Semua barang gak penting harus enyah dari rumah ini! Cuh! (lebay)

Saking memakai metode: apa-aja-dimasukin-ke-mana-aja-asal-keangkut, bunda baru saja mengalami sebuah kejadian yang menohok hati. Setelah dua bulan pindah, suatu hari bunda mau ngambil kaos kaki kotor yang ditaro di kantong samping tasnya neng isya. Pas lagi ngerogoh kantongnya, loh kok… ini ada apaan?.... ternyata….. sebatang testpack, positif pula! bayangkan: testpack….positif… dari kantong tas anak gadis bunda…. Wagagagagag…. Eh salah… hwaaaaaaa… ya Allah….. amitamitjabangbayi… naudzubillahimindzalik… mampukan aybund menjaga dan mendidik neng Isya supaya ia juga mampu menjaga dirinya sendiri, menghindari diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak engkau ridhoi ya Allah (langsung khusu)

Eh si ayah diceritain malah ngakak… terus manggil Isya…
Ayah: “isya….sini.. ayah mau bicara….”
Isya: *gak peduli, lagi balik-balik buku*
Ayah: “sebenernya… sudah sejauh apa hubungan kamu sama Nathan?” *muka serius*
Isya: *tetep gak peduli*
Bunda: ....

Oh iya, sebagai klarifikasi testpack itu punya Bunda (ya masak punya ayah)… itu testpack adalah akibat perbuatan yang diridhoi Allah tentunya kikikik…. Pembuktian kehamilan neng Utun saat ini. Seperti testpack positif kehamilan neng Isya kemarin, yang ini juga udah niat banget bunda simpen, cuma perkara nyimpennya ngasal apa enggak… itu mah urusan laen lagi yah…

Salah satu hal yang kami tunggu-tunggu pas pindah adalah neng isya tidur sendiri. Kampanye udah dari lama, mengenai anak besar yang punya kamar sendiri. Begitu pindah, dia semangaaat banget ‘merias’ kamarnya, termasuk dengan spidol, pensil, crayon, pulpen dan apapun yang dapat membuat gambar di dinding :p Ini emang kebijakan aybund, boleeeeh coret-coret dinding, asal di kamar Isya aja, dan dia pun mentaatinya, taat beneeeerrrrrr……. (memandang kamar eneng dengan pilu) Buat yang penasaran sama proses pemisahan tidur si eneng, ceritanya begini:
Malam1: “isya tidur di kamar ya.. kan udah besar, abis baca buku, bobo sendiri” ….. setelah ritual sebelum tidur selesai, termasuk baca buku, terus eneng tidur sendiri….. dah selesai.







Sama aja seperti urusan nenen, pampa dll, asal isya siap, dia mau dan bukan terpaksa, prosesnya jadi simple. Jadi PRnya ya mempersiapkan eneng, dan membuatnya berpikir bahwa hal itu menyenangkan, jadi dia mau dengan sendirinya. Pemisahan tidur ini gak smooth selalu loh yah. Sering lah eneng bangun malem-malem manggil bunda, nyuruh bunda nemenin sebentar, abis gitu udah.. tidur sendiri sampe pagi.

Sampai saat ini sih enggak ada gangguan yang parah banget, dia juga gak pernah minta tidur bareng bunda lagi, malahan pelit banget kalo kita bilang mau numpang tidur di kamarnya, pasti diusir. Kalau dia lagi ‘menyendiri’ nulis-nulis sendiri di kamarnya juga, kita masuk, pasti dengan juteknya dia bilang “tutup pintunya!” dooooh baru 3thn neeeeng… entar bijimane abege.

Sekarang, sudah dua bulan sejak hijrah ke-3 kami bulan Februari kemarin. Kepindahan kali ini dilakukan tidak lama sejak bunda berhenti jadi ibu kantoran, dan kami siap menyambut kedatangan anggota keluarga baru. So… its more like a new start for us… with a hope that we can always make this little space as a home for our hearts…….. walaupun dalam hati masih berharap, bakal ada hijrah jilid4, ke rumah milik sendiri yang mirip dengan my new year wish *ampuuuun Tuhaaaaaan….. ini mah wish loh yah, wiiiissssh… bukannya gak bersyukur loooh*

Sunday, April 18, 2010

Why its so hard to pray with her

ayah! sholat dong.. jangan moto2 aja, nakal nih ayah!

  • Karena dia sering ngajak balap mukena *diucapkan dan dilakukan seperti balap karung*
  • Karena dia selalu mengucapkan Allahuakbar dengan (seolah2) sangat khusu' *eeeng sebenernya ini bagus sih yah, tapi ibu2 yg anak balitanya begini juga pasti sholatnya jadi gak khusu', bawaannya pengen cengarcengir juga deh*
  • Karena begitu sampai sami` allahu liman hamidah, dia suka bilang... "la...la...la...la...la...la...daaaaah" atau "na..na...na...na..na..na...daaaah" atau "awalilawaliwalidaaaaaaah"
bundaaaaa... maapin isya yaaaah... maapin gak? kalo enggak isya makan nih tangannya!

  • Karena dia suka menggumamkan lagu-lagu semacam nina bobo atau twinkle2... seolah2 itu bacaan sholat
  • Karena dia suka gak bisa diem, ngoceh, nyanyi, nanya2 sambil lompat2 dan lain sebagainya...
  • Karena biar pun dia yg gak bisa diem...dia bakal marahin george *monyet di curios george yg merupakan gambar di spreinya* "george! bisa diem dong! kan lagi sholat! george nakal nih! Jangan lompat2 kalo sholat, diem aja, denger gak?!" *ini omongannya masih panjang, bisa sampe selesai sholat 4 rakaat gak berenti2 ngomelin george*




sekali-kalinya dia sholat dengan tenang, tak mengeluarkan suara sedikit pun... pas ayah balik badan.... ternyata dia ketiduran

Hijrah part 3

Setelah hijrah ke depok 2 tahun yang lalu, dan bertekad untuk segera hijrah lagi (yaiyalaaaah rumah kontrakan, mau diusir satpol PP kalo gak hijrah-hijrah???), akhirnya nasib membawa kami to another home….

Telat setahun sih dari jadwal, tapi ini karena perubahan rencana secara mendasar. Tadinya, kita berniat ngontrak setahun aja di depok terus memanfaatkan jatah tanah di Cibinong. Untuk itu, beberapa kali kami lakukan simulasi, gimana PP kerja Jakarta-Cibinong… dan kami menyerah…. Kok jauh bener yah, entar ninggalin eneng dari jam berapa sampai jam berapa dong tiap hari? Hwaaaa…. Kayaknya gak nyanggup euy. Apalagi, pada saat itu, bunda belum sampai pada keputusan untuk jadi ibu-ibu rumahan sajah. Jadi ngebayangin eneng dipegang orang lain dalam kurun waktu yang begitu panjang setiap harinya, kok agak-agak gak rela.

Akhirnya rencana berbelok, untuk tetap jadi warga Walikota yang kekerapan wajahnya muncul di muka public bisa diadu sama cover boy, Pak Nurmahmudi tercintah. Kami memutuskan, untuk berlabuh di kota belimbing ini saja. Awalnya masih pasrah, ngontrak bertahun-tahun lagi gak papa lah, kita jabanin, paling jelek ya pensiun baru boyongan ke Cibinong.  Tapi alhamdulillah nasib kami dibawa ke arah yang lebih baik. Pokoknya rezeki ada aja sampai cukup (cendrung pas-pas-an :p) untuk jadi DP sebuah rumah. Letaknya masih di komplek yang sama dengan Eni, beda cluster doang. Rumahnya, kalau kata Abah, deket ke mana-mana, ke kamar mandi deket, ke kamar deket, ke ruang tamu deket, ke dapur…. Eeeeng….. belom ada, mesti dibikin dulu waktu itu… tapi pas udah jadi, ya tetep aja deket. Tipenya: minimalis melankolis, saking minimalisnya kadang-kadang suka mellow…..kapaaaan gitu kebeli yang maximalis kikikikik. Tapi sampai saat ini, enggak pernah berhenti bersyukur diberi kenikmatan segini minimalisnya ….wagagagaga… ampun Tuhaaaan… becandaaaa….. diberi kenikmatan begini besar maksudnya Setelah bertahun-tahun jadi kontraktor, rasanya nikmaaat punya rumah sendiri. Walaupun konsekuensinya adalah kudu nyetor dalam jumlah menyayat hati (lebay) selama…. 15 TAHUN SAJAH!!! Ampun lagi Tuhaaaaan… bukan gak bersyukur, cuman agak ngilu gituh kalo pas kudu nyetornya.

Seperti biasa, acara hijrah tidak pernah terasa biasa buat kami para pemalas. Packing dan unpacking itu kayak neraka dunia. Untunglah selalu ada penjual plastik kresek kikikik…. Pokoknya judulnya, barang keangkat, segala bentuk wadah digunakan, semua barang asal blek-blek-blek dimasukin, boro-boro diatur berdasarkan ruang, fungsi, apalagi warna (dih lagi ngapain dipisah-pisahin warna). Begitu pun pas unpacking, makan waktu beberapa minggu sampai semua bener-bener ditaro di tempatnya. Mana mah dulu di rumah kontrakan cuma satu kamar yang kita pakai, yang satu jadi gudang, jadi ada lah penempatan buat barang-barang disimpen-ganggu-dibuang-sayang. Sementara sekarang, si eneng udah dapet kamar sendiri, jadi gak ada space bernama gudang. Semua barang gak penting harus enyah dari rumah ini! Cuh! (lebay)

Saking memakai metode: apa-aja-dimasukin-ke-mana-aja-asal-keangkut, bunda baru saja mengalami sebuah kejadian yang menohok hati. Setelah dua bulan pindah, suatu hari bunda mau ngambil kaos kaki kotor yang ditaro di kantong samping tasnya neng isya. Pas lagi ngerogoh kantongnya, loh kok… ini ada apaan?.... ternyata….. sebatang testpack, positif pula! bayangkan: testpack….positif… dari kantong tas anak gadis bunda…. Wagagagagag…. Eh salah… hwaaaaaaa… ya Allah….. amitamitjabangbayi… naudzubillahimindzalik… mampukan aybund menjaga dan mendidik neng Isya supaya ia juga mampu menjaga dirinya sendiri, menghindari diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak engkau ridhoi  ya Allah (langsung khusu)

Eh si ayah diceritain malah ngakak… terus manggil Isya…
Ayah: “isya….sini.. ayah mau bicara….”
Isya: *gak peduli, lagi balik-balik buku*
Ayah: “sebenernya… sudah sejauh apa hubungan kamu sama Nathan?” *muka serius*
Isya: *tetep gak peduli*
Bunda: ....

Oh iya, sebagai klarifikasi testpack itu punya Bunda (ya masak punya ayah)… itu testpack adalah akibat perbuatan yang diridhoi Allah tentunya kikikik…. Pembuktian kehamilan neng Utun saat ini. Seperti testpack positif kehamilan neng Isya kemarin, yang ini juga udah niat banget bunda simpen, cuma perkara nyimpennya ngasal apa enggak… itu mah urusan laen lagi yah…

Salah satu hal yang kami tunggu-tunggu pas pindah adalah neng isya tidur sendiri. Kampanye udah dari lama, mengenai anak besar yang punya kamar sendiri. Begitu pindah, dia semangaaat banget ‘merias’ kamarnya, termasuk dengan spidol, pensil, crayon, pulpen dan apapun yang dapat membuat gambar di dinding :p Ini emang kebijakan aybund, boleeeeh coret-coret dinding, asal di kamar Isya aja, dan dia pun mentaatinya, taat beneeeerrrrrr……. (memandang kamar eneng dengan pilu) Buat yang penasaran sama proses pemisahan tidur si eneng, ceritanya begini:
Malam1: “isya tidur di kamar ya.. kan udah besar, abis baca buku, bobo sendiri” ….. setelah ritual sebelum tidur selesai, termasuk baca buku, terus eneng tidur sendiri….. dah selesai.





Sama aja seperti urusan nenen, pampa dll, asal isya siap, dia mau dan bukan terpaksa, prosesnya jadi simple. Jadi PRnya ya mempersiapkan eneng, dan membuatnya berpikir bahwa hal itu menyenangkan, jadi dia mau dengan sendirinya. Pemisahan tidur ini gak smooth selalu loh yah. Sering lah eneng bangun malem-malem manggil bunda, nyuruh bunda nemenin sebentar, abis gitu udah.. tidur sendiri sampe pagi.

Sampai saat ini sih enggak ada gangguan yang parah banget, dia juga gak pernah minta tidur bareng bunda lagi, malahan pelit banget kalo kita bilang mau numpang tidur di kamarnya, pasti diusir. Kalau dia lagi ‘menyendiri’ nulis-nulis sendiri di kamarnya juga, kita masuk, pasti dengan juteknya dia bilang “tutup pintunya!” dooooh baru 3thn neeeeng… entar bijimane  abege.

Sekarang, sudah dua bulan sejak hijrah ke-3 kami bulan Februari kemarin. Kepindahan kali ini dilakukan tidak lama sejak bunda berhenti jadi ibu kantoran, dan kami siap menyambut kedatangan anggota keluarga baru. So… its more like a new start for us… with a hope that we can always make this little space as a home for our hearts…….. walaupun dalam hati masih berharap, bakal ada hijrah jilid4, ke rumah milik sendiri yang mirip dengan my new year wish
*ampuuuun Tuhaaaaaan….. ini mah wish loh yah, wiiiissssh… bukannya gak bersyukur loooh*