Monday, August 27, 2007

tragedi buah semangka


-if i gave a s**t you'll be the first one i'd give it too, but if it's about my watermelon juice, you can dream on babe...it's all mine!-


-hebat gak neh, minum juice semangka pake tangan sebelah, bisa gak?...hah..bisa gak?...jawab! kamu....iya kamu yang di sanaaaaa...-


-zeeva the draculi....nyem...nyem...nyem...enak juga darah si-mang-ka-


-bunda...bunda dibajunya ada apaan tuh, sini zeeva elap, he..he..padahal pengen meper-


-eh lagi difoto yah, gaya dulu aaahhhh-


-pose tatapan maut versi aneka yess, what do u think dude?!-

Pedang Dewi Kebijaksanaan

Waaaaaaaaw....... – tampang dongo yang sedang terpukau –
Kayak gimana sih yang namanya pedang dewi kebijaksanaan??? Yah begini ini.....

Wakwakwaw..... he..he..he.. kok pedangnya mbulet, mbotak pula....
*Yeee.... yang penting manisz....*

Buat yang gak mudeng, Pedang Dewi Kebijkasanaan tuh adalah arti harfiah dari nama baby zee. Zeeva = pedang (bahasa Yunani) Athena = Dewi Kebijaksanaan (tau kan? Dari Mitologi dewa-dewi Yunani), kalau iseng ngartiin lagi Cakranegara = senjata negara (Cuma yang ini emang last name Ayah, biar orang mudeng gituh Zeeva anaknya pak cakranegara).

Gak tau kan nama tersebut hasil tapa berapa lama? Berapa orang pintar yang kami mintai saran? Berapa lama proses berpikir dan betapa alotnya proses pengambilan keputusan? Untuk lebih jelasnya silahkan klik disini.
Enggak bisa? Yaiyalah, wong ngeblog aja baru bisa, boro-boro bikin link ;p

Lagian ya, nama Zeeva Athena Cakranegara tuh dapetnya gak ribet2 amat, begini ceritanya:

(adegan terjadi di atas motor, waktu Ayah bahkan belum menghamili Bunda, waktu itu lagi on the way ke rumah Eni-Abah yang waktu itu juga belum jadi Eni-Abah, masih Mamah-Bapaknya Bunda, lokasi tepatnya masih diperdebatkan, Bunda mah yakin banget di belakang taman langsat deket mayestik, Ayah punya versi sendiri – tapi mengingat daya ingat Bunda jauuuuuh lebih tokcer daripada daya ingat Ayah, kita anggap saja di dekat mayestik tersebut - )
Ayah bilang, “kalau punya anak cewek namanya Ziva ya”, “artinya apa?” kata Bunda yang ngotot kalo nama anak harus ada artinya, “Dewi” kata Ayah sok yakin – seperti biasanya – “yeeee....itu mah Diva tauuu”, “ya biarin aja, kata siapa Diva artinya Dewi?” “dih..emang beneran diva artinya dewi”, “yaudah kita bilang aja Ziva artinya dewi, orang aja bisa klaim Diva artinya Dewi, ya kita juga bisa dong bilang gitu”. Bunda Cuma bisa geleng-geleng, secara yah, yang kenal Ayah mah tau deh, kalo udah gini percumaaaaa mau dibahas juga.

Nah, pas akhirnya Ayah berhasil menghamili Bunda, dan setelah diintip diperkirakan si buba bakalan cewek, mulailah kita lebih serius membahas nama Ziva ini. Bunda sih suka banget, kedengarannya emang keren, Bunda paling anti nama anak cewek yang too sweet, jadi berasa lembah lembut, padahal pengennya Bunda, mau anak bunda cwek/cowok, bakalan gagah perkasa menghadapi dunia nan keras ini.

Mulailah Bunda menyekilikidiki, apakah makna yang terkandung pada kata Zeeva (sebelum tau artinya, Bunda udah bertekad akan menggunakan spelling ini). Setelah tanya-tanya paman google dan tante yahoo, maka ternyata Ziva dalam bahasa Yahudi artinya Surga, Zeva dalam bahasa Yunani artinya Pedang. Pilih mana? Ya pedang lah, lebih gagah perkasa! Lagian, ngasih nama anak dalam bahasa Yahudi, wualaaaah...bisa memunculkan resiko keluarnya statement rasis dari sebagian orang.
Ya wes, pas pula sama spelling yang dipilih Bunda. Lagian kan yang penting punya jawaban waktu ditanya artinya apa, hue..hue..hue....

Terus middle name nya? Setelah mencari-cari sesuatu yang berkesan taft dan gak terlalu girlie dengan makna yang baik tentunya. Bunda ketemu nama Athena, secara ya bo, artinya pula Dewi Kebijaksanaan.

Temen2 Bunda tau deh (terutama tante ndut, ina), Bijak tuh adalah obsesi Bunda. Untuk tahu yang benar dan yang salah emang gak mudah, tapi gak terlalu sulit juga, soalnya guidenya banyak. Ada UU, PP, sampai peraturan regional di tiap daerah, ada juga kitab suci, etika nan diturunkan dari generasi2 sebelumnya dll dst.

Tapi kebijaksanaan punya level yang lebih tinggi. Untuk menjadi bijaksana, seluruh perangkat kemanusiaan macam akal, pikiran, hati nurani, hingga insting harus dipergunakan. Untuk menimbang apakah mudarat lebih banyak daripada manfaat, untuk memutuskan yang mana yang terbaik bagi orang banyak, untuk bisa memberikan output nan fleksibel sesuai dengan tempat berpijak berdasarkan kasus per kasus tanpa menjadi plin-plan adalah tingkat advance yang tidak sembarang manusia bisa mencapainya.

Aybun pun begitu, mencoba sih InsyaAllah selalu, tapi berhasil....hmmmm masih jauh lah. Semoga, Zeeva bisa mencapai level tersebut, dan tidak hanya bijaksana bagi dirinya sendiri, tapi juga jadi dewi kebijaksanaan buat banyak orang.

Amien!

-bund...bund...ngomong apaan seh?-