Tuesday, April 20, 2010

My Name is Khan

Rating:
Category:Movies
Genre: Drama
Kapan yah terakhir kali gue nonton berdua bang kribo…………. Kayaknya 31 desember 2008 deh. Waktu itu kita berdua bisa pulang cepet dari kantor, nyempet-nyempetin nonton ke blitz GI, milih film apa aja yg ada, Bedtime story pun jadi, yang penting bisa nonton berdua sambil pegangan tangan kikikikik….. Filmnya std banget buat bunda, boro-boro lucu, tapi berhub si ayah abis makan ‘brownies ajaib’ di kantornya, dia mah ketawa gak karuan, doh!

Habis itu gak pernah nonton berdua lagi. Gak bisa dibilang gak ada kesempatan samsek sih, tapiiiiii….. gak bisa aja rasanya ninggalin eneng buat nonton berdua doang, seperti yang dulu pernah tertulis di sini ( http://zeeva-athena.blogspot.com/2008/01/mad-about-you.html ... eh kalo review mah gak bisa ngelink yah?). Hingga sekitar sebulan yang lalu, si eneng kekeuh pengen ikut abah n eni ke tangerang n ke Bekasi. Berhub rute panjang gila, dijamin si eneng masih lama pulangnya…. Bang kribo pun mengajukan ide cemerlang buat kencan di bioskop. Gak ada beban perginya, secara dalam hal ini si eneng yang ‘ninggalin’ aybund, bukan sebaliknya.

Paling asik ya margo platinum. Paling deket sih ke 21plaza depok, depan terminal. Tapi berhub filmnya gak jauh dari Arisan Brondong, Pocong Perawan, Kuntilanak Datang Bulan (eh bener gak sih itu judul2 pilem?) jadi aybund ogeng bener dah, bukan apa-apa, pelem-pelem kyk gitu mah udah kita tonton semua wagagagag…..

Akhirnya, pilihan tontonan jatuh ke My Name is Khan, penasaran aja mengingat beberapa resensi yang pernah gue baca.

Melupakan semua resensi, in my humble opinion… we should salute the original story writer… and together with him (or her?) lets curse the producer, script writer and talent artist! May you guys burn in Hell-i-wood!

Ide besar ceritanya sungguh cemerlang. Mengalirkan sebuah konflik dalam track alami yang ‘dijaga’ seorang penderita Autis bernama Khan. Khan adalah seorang muslim India yang kemudian migrasi ke Amerika Serikat. Seperti kita ketahui, posisinya begitu rawan konflik. Baik di India maupun di Amerika Serikat, muslim bukanlah sebuah golongan yang bisa bebas menenteng samurai, mengintimasi, dan bahkan, membunuh seseorang sambil menyerukan nama Tuhan, lalu melenggang begitu saja dengan kepala tegak bak seorang pahlawan selesai berjuang.

Intimidasi, diskriminasi, atau sekedar tatapan curiga bukanlah barang aneh bagi muslim dalam posisi Khan. Tidak hanya dari orang selain muslim, tapi juga dari saudara seiman. Dan semuanya dipertanyakan oleh Khan dalam ‘kenaifan’ seorang penderita autis. Maka, dibalik ‘kenaifan’ tersebut, film ini mampu bercerita secara ‘naif’ pula, dalam kepolosan hati yang bersih, simple, dan menjadi terasa begitu tak menggurui.

Salah satu adegan menyentuh adalah ketika Khan kecil melihat konflik antar muslim dan hindu di India, kemudian dia mengikuti omongan tetangganya sesama muslim yang mengutuk umat hindu. Dengan segera, ibunya mengambil buku tulis, menggambarkan orang sedang memukul orang lain dengan tongkat yang kemudian Khan simpulkan sebagai orang jahat. Sebuah gambar lagi ditorehkan ibunya di buku yang sama, yang menggambarkan orang memberi lollipop pada orang lain, yang disimpulkan Khan sebagai orang baik. Dan ibunya menutup dengan… hanya ada dua jenis orang di dunia ini, baik dan jahat! Dia bisa muslim, bisa hindu, bisa juga agama, jenis kulit, atau warga Negara lain. Simple, cenderung naïf, tapi siapa bisa menyangkal?

Selain itu, ada sebuah quote yang juga begitu terasa menyengat, salah satunya menyatakan: (sorry, sayah bukan pengutip yang baik, jadi seingetnya aja ya kalimatnya) Orang di dunia barat membagi masa dalam dua bagian, sebelum masehi dan sesudah masehi, tapi setelah tragedy 9/11 mereka memulai sebuah masa yang baru. Setidaknya begitulah dalam dunia Khan dan keluarganya yang adalah imigran muslim di Amerika Serikat.

Nah di sini salah satu ‘keajaiban’ Bollywood (yang kayaknya diadaptasi, kalau tidak mau disebut ditiru, oleh sinetron Indonesia) entah kenapa nama Khan begitu identik dengan nama muslim di sebuah lingkungan yang sangat ‘ngamerika’. Okeh…. Di India boleh lah, seperti mungkin di Sumatra Utara orang dapat mengasosiasikan nama keluarga seseorang dengan sebuah agama. Tapi di luar itu kan tidak banyak yang ngeh toh? Kedua, hampir semua tokoh kunci adalah orang India. Dua reporter kampus, seorang reporter dari stasiun televis ternama, sama siapa lagi ya? Lupa dah… intinya, orang India top banget lah, ada di berbagai posisi strategis di Amerika sana.

Rasa bollywood juga begitu kental, tidak hanya dari scene-scene kecil macam: cewek cantik yang sedang ketawa dalam slow motion, rambutnya berkibar-kibar, terus tau-tau bengong pas ketauan diliatin, terus ketawa lagi… syet daaaah ada berapa kali aja tuh scene kyk gitu (opini dikontaminasi oleh rasa ngiri karna rambut cuma bisa kiwir-kiwir, boro-boro kibar-kibar). Selain itu juga dalam hal yang lebih prinsip seperti multi-ending yang memang sepertinya begitu kental mengalir dalam darah sutradara-sutradara bollywood….. and I bet, some of them are related to the Punjabis! Banyaaaaak dah adegan yang aturan tuh udah aja gituh, tutuuuuup, eh dia masih ada terusannya… haruslah menutup dengan menolong Mama Jenny yang kebanjiran, mesti keluar RS sambil dieluk-elukan dulu lah, abis gitu masih kuduuuu aja gitu salaman sama Obama….capew dew! Padahal pointnya udah nyampe dari kapan tau. Tapi entah karna takut penontonnya kurang pinter, atau emang kru filmnya saling menyayangi sehingga gak mau buru-buru selesai shooting terus bubar, jadilah happy ending terus menerus digelar.

Speaking about penonton yang (dikhawatirkan) kurang pinter, para pembuat My Name is Khan juga merasa perlu untuk menjabarkan dengan symbol-simbol ‘dangkal’ mengenai banyak hal. Seperti kerukunan antar umat manusia digambarkan dengan menolong Mama Jenny dan warga kota lainnya yang terperangkap badai di dalam gereja. Para penolong entah bagaimana berhasil masuk ke daerah terisolir, beberapa memakai atribut muslim, beberapa dari etnis berkulit putih, beberapa berkulit hitam, semua lagi jalan menembus banjir yang sampai sedada. Dan mereka bekerja, ngangkat-ngangkat barang, di bawah badai yang konon mematikan, sambil terus disiram hujan, oh iya… dengan diiringi lagu-lagu pembawa perasaan dan dalam slow motion mode on cencunya…… Dan mereka pikir, mereka sudah jauh dari bollywood dengan tidak membiarkan khan dan kajol bernyanyi dan menari! Yeah rite!

Oh iya, satu lagi…. The talent agent! Siapapun orangnya, harusnya dia belajar banyak pada talent agent yang menemukan perempuan aneh yang joget-joget aneh di iklan tori cheese crackers bersama dua pahlawan bertopeng aneh di belakangnya! Setidak-tidaknya mereka begitu menyebalkan sampai membuat gue inget tori cheese crackers setiap kali lewat lorong snack di supermarket, walaupun itu tidak berarti gue mau membelinya, tapi dalam teori red ocean dunia periklanan, takdirnya sebagai iklan tercapai, menancapkan produknya dalam ingatan penonton iklan. Sementara di my name is Khan, talent agent bahkan tidak dapat memilih Obama yang setidaknya, mirip presiden, dan bukan mirip agen asuransi kemaren sore….. masih jauh lebih meyakinkan Obama yang kuliah di BSI deh! Belum lagi orang FBInya yang lebih mirip orang-berusaha-mirip-agen-FBI-dan-gagal! Belum lagi adegan Khan diinterogasinya…. Yeilaaaah gak sekalian lagi disetrum dengan posisi nungging dengan background lampu disko aje, biar sekalian gak meyakinkan pol! Dan walaupun akting Sharuk Khan sebagai penderita Autis kelihatan cukup meyakinkan, tapi tolong deh… totalitasnya sebagai aktor, mbok ya otot diumpetin dulu, badan digembyorin dulu kek, tiru dong Sly di film apaan tuh yang dia jadi polisi budek… dia aja yang mantan Rambo rela ngegemukin badannya buat peran itu. Atau paling enggak sutradaranya kek menghilangkan adegan di mana ototnya Khan terekspos. Langsung buyar semua aktingnya sebagai penderita Autis begitu Khan ngangkat kedua lengan ‘bergunung-gunung’nya.

Dan walaupun gue begitu mengapresiasi kemampuan pemilik ide ceritanya yang mampu menggambarkan perspektif muslim dalam konflik ini dengan sangat lugas, sederhana, dan ‘masuk akal’, tapi toh ceritanya juga kurang orisinil…. Sebelumnya, kita bisa ngeliat ide serupa dalam Forrest Gump. Mempertanyakan dunia dalam perspektif orang dengan kbutuhan khusus, yang ujungnya membuat kita, yang katanya tidak punya kebutuhan khusus ini, jadi merasa... ternyata dunia bisa terlihat sesederhana itu, kalau kita mau menggeser sudut pandang.

Well… setidaknya kami punya waktu untuk bergandengan tangan sepanjang film… *wink wink*

note: foto hasil gugling dari mana tau, lupa euy.. maap yah yg punya

Monday, April 19, 2010

Why its so hard to pray with her


ayah! sholat dong.. jangan moto2 aja, nakal nih ayah!


#Karena dia sering ngajak balap mukena *diucapkan dan dilakukan seperti balap karung*

#Karena dia selalu mengucapkan Allahuakbar dengan (seolah2) sangat khusu' *eeeng sebenernya ini bagus sih yah, tapi ibu2 yg anak balitanya begini juga pasti sholatnya jadi gak khusu', bawaannya pengen cengarcengir juga deh*

#Karena begitu sampai sami` allahu liman hamidah, dia suka bilang... "la...la...la...la...la...la...daaaaah" atau "na..na...na...na..na..na...daaaah" atau "awalilawaliwalidaaaaaaah"


bundaaaaa... maapin isya yaaaah... maapin gak? kalo enggak isya makan nih tangannya!


#Karena dia suka menggumamkan lagu-lagu semacam nina bobo atau twinkle2... seolah2 itu bacaan sholat

#Karena dia suka gak bisa diem, ngoceh, nyanyi, nanya2 sambil lompat2 dan lain sebagainya...

#Karena biar pun dia yg gak bisa diem...dia bakal marahin george *monyet di curios george yg merupakan gambar di spreinya* "george! bisa diem dong! kan lagi sholat! george nakal nih! Jangan lompat2 kalo sholat, diem aja, denger gak?!" *ini omongannya masih panjang, bisa sampe selesai sholat 4 rakaat gak berenti2 ngomelin george*





sekali-kalinya dia sholat dengan tenang, tak mengeluarkan suara sedikit pun... pas ayah balik badan.... ternyata dia ketiduran

Hijrah part3

Setelah hijrah ke depok 2 tahun yang lalu, dan bertekad untuk segera hijrah lagi (yaiyalaaaah rumah kontrakan, mau diusir satpol PP kalo gak hijrah-hijrah???), akhirnya nasib membawa kami to another home….

Telat setahun sih dari jadwal, tapi ini karena perubahan rencana secara mendasar. Tadinya, kita berniat ngontrak setahun aja di depok terus memanfaatkan jatah tanah di Cibinong. Untuk itu, beberapa kali kami lakukan simulasi, gimana PP kerja Jakarta-Cibinong… dan kami menyerah…. Kok jauh bener yah, entar ninggalin eneng dari jam berapa sampai jam berapa dong tiap hari? Hwaaaa…. Kayaknya gak nyanggup euy. Apalagi, pada saat itu, bunda belum sampai pada keputusan untuk jadi ibu-ibu rumahan sajah. Jadi ngebayangin eneng dipegang orang lain dalam kurun waktu yang begitu panjang setiap harinya, kok agak-agak gak rela.

Akhirnya rencana berbelok, untuk tetap jadi warga Walikota yang kekerapan wajahnya muncul di muka public bisa diadu sama cover boy, Pak Nurmahmudi tercintah. Kami memutuskan, untuk berlabuh di kota belimbing ini saja. Awalnya masih pasrah, ngontrak bertahun-tahun lagi gak papa lah, kita jabanin, paling jelek ya pensiun baru boyongan ke Cibinong. Tapi alhamdulillah nasib kami dibawa ke arah yang lebih baik. Pokoknya rezeki ada aja sampai cukup (cendrung pas-pas-an :p) untuk jadi DP sebuah rumah. Letaknya masih di komplek yang sama dengan Eni, beda cluster doang. Rumahnya, kalau kata Abah, deket ke mana-mana, ke kamar mandi deket, ke kamar deket, ke ruang tamu deket, ke dapur…. Eeeeng….. belom ada, mesti dibikin dulu waktu itu… tapi pas udah jadi, ya tetep aja deket. Tipenya: minimalis melankolis, saking minimalisnya kadang-kadang suka mellow…..kapaaaan gitu kebeli yang maximalis kikikikik. Tapi sampai saat ini, enggak pernah berhenti bersyukur diberi kenikmatan segini minimalisnya ….wagagagaga… ampun Tuhaaaan… becandaaaa….. diberi kenikmatan begini besar maksudnya Setelah bertahun-tahun jadi kontraktor, rasanya nikmaaat punya rumah sendiri. Walaupun konsekuensinya adalah kudu nyetor dalam jumlah menyayat hati (lebay) selama…. 15 TAHUN SAJAH!!! Ampun lagi Tuhaaaaan… bukan gak bersyukur, cuman agak ngilu gituh kalo pas kudu nyetornya.

Seperti biasa, acara hijrah tidak pernah terasa biasa buat kami para pemalas. Packing dan unpacking itu kayak neraka dunia. Untunglah selalu ada penjual plastik kresek kikikik…. Pokoknya judulnya, barang keangkat, segala bentuk wadah digunakan, semua barang asal blek-blek-blek dimasukin, boro-boro diatur berdasarkan ruang, fungsi, apalagi warna (dih lagi ngapain dipisah-pisahin warna). Begitu pun pas unpacking, makan waktu beberapa minggu sampai semua bener-bener ditaro di tempatnya. Mana mah dulu di rumah kontrakan cuma satu kamar yang kita pakai, yang satu jadi gudang, jadi ada lah penempatan buat barang-barang disimpen-ganggu-dibuang-sayang. Sementara sekarang, si eneng udah dapet kamar sendiri, jadi gak ada space bernama gudang. Semua barang gak penting harus enyah dari rumah ini! Cuh! (lebay)

Saking memakai metode: apa-aja-dimasukin-ke-mana-aja-asal-keangkut, bunda baru saja mengalami sebuah kejadian yang menohok hati. Setelah dua bulan pindah, suatu hari bunda mau ngambil kaos kaki kotor yang ditaro di kantong samping tasnya neng isya. Pas lagi ngerogoh kantongnya, loh kok… ini ada apaan?.... ternyata….. sebatang testpack, positif pula! bayangkan: testpack….positif… dari kantong tas anak gadis bunda…. Wagagagagag…. Eh salah… hwaaaaaaa… ya Allah….. amitamitjabangbayi… naudzubillahimindzalik… mampukan aybund menjaga dan mendidik neng Isya supaya ia juga mampu menjaga dirinya sendiri, menghindari diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak engkau ridhoi ya Allah (langsung khusu)

Eh si ayah diceritain malah ngakak… terus manggil Isya…
Ayah: “isya….sini.. ayah mau bicara….”
Isya: *gak peduli, lagi balik-balik buku*
Ayah: “sebenernya… sudah sejauh apa hubungan kamu sama Nathan?” *muka serius*
Isya: *tetep gak peduli*
Bunda: ....

Oh iya, sebagai klarifikasi testpack itu punya Bunda (ya masak punya ayah)… itu testpack adalah akibat perbuatan yang diridhoi Allah tentunya kikikik…. Pembuktian kehamilan neng Utun saat ini. Seperti testpack positif kehamilan neng Isya kemarin, yang ini juga udah niat banget bunda simpen, cuma perkara nyimpennya ngasal apa enggak… itu mah urusan laen lagi yah…

Salah satu hal yang kami tunggu-tunggu pas pindah adalah neng isya tidur sendiri. Kampanye udah dari lama, mengenai anak besar yang punya kamar sendiri. Begitu pindah, dia semangaaat banget ‘merias’ kamarnya, termasuk dengan spidol, pensil, crayon, pulpen dan apapun yang dapat membuat gambar di dinding :p Ini emang kebijakan aybund, boleeeeh coret-coret dinding, asal di kamar Isya aja, dan dia pun mentaatinya, taat beneeeerrrrrr……. (memandang kamar eneng dengan pilu) Buat yang penasaran sama proses pemisahan tidur si eneng, ceritanya begini:
Malam1: “isya tidur di kamar ya.. kan udah besar, abis baca buku, bobo sendiri” ….. setelah ritual sebelum tidur selesai, termasuk baca buku, terus eneng tidur sendiri….. dah selesai.







Sama aja seperti urusan nenen, pampa dll, asal isya siap, dia mau dan bukan terpaksa, prosesnya jadi simple. Jadi PRnya ya mempersiapkan eneng, dan membuatnya berpikir bahwa hal itu menyenangkan, jadi dia mau dengan sendirinya. Pemisahan tidur ini gak smooth selalu loh yah. Sering lah eneng bangun malem-malem manggil bunda, nyuruh bunda nemenin sebentar, abis gitu udah.. tidur sendiri sampe pagi.

Sampai saat ini sih enggak ada gangguan yang parah banget, dia juga gak pernah minta tidur bareng bunda lagi, malahan pelit banget kalo kita bilang mau numpang tidur di kamarnya, pasti diusir. Kalau dia lagi ‘menyendiri’ nulis-nulis sendiri di kamarnya juga, kita masuk, pasti dengan juteknya dia bilang “tutup pintunya!” dooooh baru 3thn neeeeng… entar bijimane abege.

Sekarang, sudah dua bulan sejak hijrah ke-3 kami bulan Februari kemarin. Kepindahan kali ini dilakukan tidak lama sejak bunda berhenti jadi ibu kantoran, dan kami siap menyambut kedatangan anggota keluarga baru. So… its more like a new start for us… with a hope that we can always make this little space as a home for our hearts…….. walaupun dalam hati masih berharap, bakal ada hijrah jilid4, ke rumah milik sendiri yang mirip dengan my new year wish *ampuuuun Tuhaaaaaan….. ini mah wish loh yah, wiiiissssh… bukannya gak bersyukur loooh*

Sunday, April 18, 2010

Why its so hard to pray with her

ayah! sholat dong.. jangan moto2 aja, nakal nih ayah!

  • Karena dia sering ngajak balap mukena *diucapkan dan dilakukan seperti balap karung*
  • Karena dia selalu mengucapkan Allahuakbar dengan (seolah2) sangat khusu' *eeeng sebenernya ini bagus sih yah, tapi ibu2 yg anak balitanya begini juga pasti sholatnya jadi gak khusu', bawaannya pengen cengarcengir juga deh*
  • Karena begitu sampai sami` allahu liman hamidah, dia suka bilang... "la...la...la...la...la...la...daaaaah" atau "na..na...na...na..na..na...daaaah" atau "awalilawaliwalidaaaaaaah"
bundaaaaa... maapin isya yaaaah... maapin gak? kalo enggak isya makan nih tangannya!

  • Karena dia suka menggumamkan lagu-lagu semacam nina bobo atau twinkle2... seolah2 itu bacaan sholat
  • Karena dia suka gak bisa diem, ngoceh, nyanyi, nanya2 sambil lompat2 dan lain sebagainya...
  • Karena biar pun dia yg gak bisa diem...dia bakal marahin george *monyet di curios george yg merupakan gambar di spreinya* "george! bisa diem dong! kan lagi sholat! george nakal nih! Jangan lompat2 kalo sholat, diem aja, denger gak?!" *ini omongannya masih panjang, bisa sampe selesai sholat 4 rakaat gak berenti2 ngomelin george*




sekali-kalinya dia sholat dengan tenang, tak mengeluarkan suara sedikit pun... pas ayah balik badan.... ternyata dia ketiduran

Hijrah part 3

Setelah hijrah ke depok 2 tahun yang lalu, dan bertekad untuk segera hijrah lagi (yaiyalaaaah rumah kontrakan, mau diusir satpol PP kalo gak hijrah-hijrah???), akhirnya nasib membawa kami to another home….

Telat setahun sih dari jadwal, tapi ini karena perubahan rencana secara mendasar. Tadinya, kita berniat ngontrak setahun aja di depok terus memanfaatkan jatah tanah di Cibinong. Untuk itu, beberapa kali kami lakukan simulasi, gimana PP kerja Jakarta-Cibinong… dan kami menyerah…. Kok jauh bener yah, entar ninggalin eneng dari jam berapa sampai jam berapa dong tiap hari? Hwaaaa…. Kayaknya gak nyanggup euy. Apalagi, pada saat itu, bunda belum sampai pada keputusan untuk jadi ibu-ibu rumahan sajah. Jadi ngebayangin eneng dipegang orang lain dalam kurun waktu yang begitu panjang setiap harinya, kok agak-agak gak rela.

Akhirnya rencana berbelok, untuk tetap jadi warga Walikota yang kekerapan wajahnya muncul di muka public bisa diadu sama cover boy, Pak Nurmahmudi tercintah. Kami memutuskan, untuk berlabuh di kota belimbing ini saja. Awalnya masih pasrah, ngontrak bertahun-tahun lagi gak papa lah, kita jabanin, paling jelek ya pensiun baru boyongan ke Cibinong.  Tapi alhamdulillah nasib kami dibawa ke arah yang lebih baik. Pokoknya rezeki ada aja sampai cukup (cendrung pas-pas-an :p) untuk jadi DP sebuah rumah. Letaknya masih di komplek yang sama dengan Eni, beda cluster doang. Rumahnya, kalau kata Abah, deket ke mana-mana, ke kamar mandi deket, ke kamar deket, ke ruang tamu deket, ke dapur…. Eeeeng….. belom ada, mesti dibikin dulu waktu itu… tapi pas udah jadi, ya tetep aja deket. Tipenya: minimalis melankolis, saking minimalisnya kadang-kadang suka mellow…..kapaaaan gitu kebeli yang maximalis kikikikik. Tapi sampai saat ini, enggak pernah berhenti bersyukur diberi kenikmatan segini minimalisnya ….wagagagaga… ampun Tuhaaaan… becandaaaa….. diberi kenikmatan begini besar maksudnya Setelah bertahun-tahun jadi kontraktor, rasanya nikmaaat punya rumah sendiri. Walaupun konsekuensinya adalah kudu nyetor dalam jumlah menyayat hati (lebay) selama…. 15 TAHUN SAJAH!!! Ampun lagi Tuhaaaaan… bukan gak bersyukur, cuman agak ngilu gituh kalo pas kudu nyetornya.

Seperti biasa, acara hijrah tidak pernah terasa biasa buat kami para pemalas. Packing dan unpacking itu kayak neraka dunia. Untunglah selalu ada penjual plastik kresek kikikik…. Pokoknya judulnya, barang keangkat, segala bentuk wadah digunakan, semua barang asal blek-blek-blek dimasukin, boro-boro diatur berdasarkan ruang, fungsi, apalagi warna (dih lagi ngapain dipisah-pisahin warna). Begitu pun pas unpacking, makan waktu beberapa minggu sampai semua bener-bener ditaro di tempatnya. Mana mah dulu di rumah kontrakan cuma satu kamar yang kita pakai, yang satu jadi gudang, jadi ada lah penempatan buat barang-barang disimpen-ganggu-dibuang-sayang. Sementara sekarang, si eneng udah dapet kamar sendiri, jadi gak ada space bernama gudang. Semua barang gak penting harus enyah dari rumah ini! Cuh! (lebay)

Saking memakai metode: apa-aja-dimasukin-ke-mana-aja-asal-keangkut, bunda baru saja mengalami sebuah kejadian yang menohok hati. Setelah dua bulan pindah, suatu hari bunda mau ngambil kaos kaki kotor yang ditaro di kantong samping tasnya neng isya. Pas lagi ngerogoh kantongnya, loh kok… ini ada apaan?.... ternyata….. sebatang testpack, positif pula! bayangkan: testpack….positif… dari kantong tas anak gadis bunda…. Wagagagagag…. Eh salah… hwaaaaaaa… ya Allah….. amitamitjabangbayi… naudzubillahimindzalik… mampukan aybund menjaga dan mendidik neng Isya supaya ia juga mampu menjaga dirinya sendiri, menghindari diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak engkau ridhoi  ya Allah (langsung khusu)

Eh si ayah diceritain malah ngakak… terus manggil Isya…
Ayah: “isya….sini.. ayah mau bicara….”
Isya: *gak peduli, lagi balik-balik buku*
Ayah: “sebenernya… sudah sejauh apa hubungan kamu sama Nathan?” *muka serius*
Isya: *tetep gak peduli*
Bunda: ....

Oh iya, sebagai klarifikasi testpack itu punya Bunda (ya masak punya ayah)… itu testpack adalah akibat perbuatan yang diridhoi Allah tentunya kikikik…. Pembuktian kehamilan neng Utun saat ini. Seperti testpack positif kehamilan neng Isya kemarin, yang ini juga udah niat banget bunda simpen, cuma perkara nyimpennya ngasal apa enggak… itu mah urusan laen lagi yah…

Salah satu hal yang kami tunggu-tunggu pas pindah adalah neng isya tidur sendiri. Kampanye udah dari lama, mengenai anak besar yang punya kamar sendiri. Begitu pindah, dia semangaaat banget ‘merias’ kamarnya, termasuk dengan spidol, pensil, crayon, pulpen dan apapun yang dapat membuat gambar di dinding :p Ini emang kebijakan aybund, boleeeeh coret-coret dinding, asal di kamar Isya aja, dan dia pun mentaatinya, taat beneeeerrrrrr……. (memandang kamar eneng dengan pilu) Buat yang penasaran sama proses pemisahan tidur si eneng, ceritanya begini:
Malam1: “isya tidur di kamar ya.. kan udah besar, abis baca buku, bobo sendiri” ….. setelah ritual sebelum tidur selesai, termasuk baca buku, terus eneng tidur sendiri….. dah selesai.





Sama aja seperti urusan nenen, pampa dll, asal isya siap, dia mau dan bukan terpaksa, prosesnya jadi simple. Jadi PRnya ya mempersiapkan eneng, dan membuatnya berpikir bahwa hal itu menyenangkan, jadi dia mau dengan sendirinya. Pemisahan tidur ini gak smooth selalu loh yah. Sering lah eneng bangun malem-malem manggil bunda, nyuruh bunda nemenin sebentar, abis gitu udah.. tidur sendiri sampe pagi.

Sampai saat ini sih enggak ada gangguan yang parah banget, dia juga gak pernah minta tidur bareng bunda lagi, malahan pelit banget kalo kita bilang mau numpang tidur di kamarnya, pasti diusir. Kalau dia lagi ‘menyendiri’ nulis-nulis sendiri di kamarnya juga, kita masuk, pasti dengan juteknya dia bilang “tutup pintunya!” dooooh baru 3thn neeeeng… entar bijimane  abege.

Sekarang, sudah dua bulan sejak hijrah ke-3 kami bulan Februari kemarin. Kepindahan kali ini dilakukan tidak lama sejak bunda berhenti jadi ibu kantoran, dan kami siap menyambut kedatangan anggota keluarga baru. So… its more like a new start for us… with a hope that we can always make this little space as a home for our hearts…….. walaupun dalam hati masih berharap, bakal ada hijrah jilid4, ke rumah milik sendiri yang mirip dengan my new year wish
*ampuuuun Tuhaaaaaan….. ini mah wish loh yah, wiiiissssh… bukannya gak bersyukur loooh*

Wednesday, March 31, 2010

Pregnancy behind the scene


*28 weeks*


*31 weeks*


lumayan agak telat sepertinya buat cerita soal perhamdunan, mengingat ini sudah masuk minggu ke32. Tetapi, seperti orang yang suka telat bilang: lebih baik terlambat daripada terpeleset, terpelanting, atau tergoda rayuan setan.

Seperti sudah diketahui banyak pihak, hasil usg terakhir menyatakan bahwa ayah kribo bakalan jadi Charlie. Bukan Charlie caplin atau Charlie EsTehDuaGelas, tapi semacam di charlie’s angel yang dikerubungin cewek-cewek. Cuman nih yah, naga-naganya Charlie kribo ini gak bakalan bisa seenaknya nyuruh2 angelsnya. Lah angel sebiji masing segede kuprit aja jarang-jarang nurut sama dia, bijimana kalo tuh angel punya kongsi sebiji lagih. Yang ada judulnya angels’s Charlie kikikikikik…

Kuciwa kah si kribo gak punya anak laki? Gak bisa menurunkan tahtanya? Pada siapa dia menyerahkan kerajaannya nanti? Kekekekek…. Soalnya agak basi dah gue dikasih komen “enggak apa-apa lah, cewek lagi juga gak papa kok” laaaaaah…. Ya emang kagak apa-apaaaaaa…..emang mau diapain? Mau g anyutin gitu ke kali pake keranjang rotan? Apa g tinggalin depan pintu panti asuhan??? Apa mau g titipin ke burung apaan-tuh bakal ditaro di cerobong asap rumah orang???? Perasaan sedih amat jadi perempuan, kyk kurang diarep-arep, tau gitu g jadi orang padang dah!

Jadi yah, berhubung si kribo gak punya tahta, apalagi kerajaan, gak pernah ada ganjelan dalam hidupnya untuk punya anak laki atau enggak. Emang paling seru kalo punya anak sepasang, kan jadi punya pengalaman ngebesarin anak lelaki n perempuan yang kata orang (kata orang loh yaaaaaaah, bukan kata sayah! Catet!) beda banget. Padahal kalo kata sayah mah, ngebesarin dua anak ya dua pengalaman yang berbeda toh, tiap anak kan unik. But anyway, itu semacam bonus, bukan tujuan hidup.

Nah terus, rencana punya anak tiga mah udah dari awal sebelum merit kita tetapkan. Cumiiiin… begitu neng lahir, apalagi begitu neng skolah, bunda puyeng aja kudu ngetriple-in segalanya jadi tiga. Nah mulai deh gue minta korting sama bang kribo “bang….. (pake suara elya kadam di pelem benyamin) satu aje ya bang….” “apaaaaaaa????” (zoom in-zoom out 100x ala simitron)

Makanya kemudian terjadi pegulatan batin sebelum sayah bersukarela dihamili kembali oleh bang kribo. Sempet mellow-melow takut gak bisa ngebagi perhatian sama neng lagi, rasanya kyk mau poligamiin si eneng (okeh…lebaaaaay….seterah doooong…..protes bayar!) Sampe gue konsul ke emak-emak rajin beranak (wagagagag) salah satunya di gunung sonoh. Gimana sih punya anak kok sampe lebih dari satu? Apa kurang kerjaan atau gimana? (bletak!) Sampe akhirnya gue menemukan alasan untuk memberi ade bagi isya. Seriously, hadiah apalagi sih yang lebih indah buat seorang anak selain saudara kandung? Nanti, kalau aybundnya isya udah uzur, atau malah udah punah (emang dinosaurus kikikikik), siapa yang bisa nemenin isya? Yang bisa nolong isya? Dalam ikatan yang gak akan pernah putus oleh apapun, seperti saudara kandung…. Jadilah niat si bunda ini pun bulat…. Dan di malam-malam yang dingin itu pun sayah berkata “bang….(tetep pake suara elya kadam di pelem benyamin)….nyok bang kita ngaduk adonan lagih”

Eh tapi yah, negosiasi tersebut masih berlangsung. Si ayah smp skrg ttp kekeh pengen punya anak tiga, sementara si bunda masih belom nemu alasan buat berbulat niat lagi untuk bersukarela dihamilin kembali, laaaah yang ini aje blom kelar baaaaang. Jadiiiii.. kekekehan si abang ini gak ada hub nya sama jenis kelamin neng utun yaw. Doh jadi inget ampe emosi jiwa waktu seorang temen tau si ayah minta anak tiga trus dia komen “masih penasaran yah, pengen nyoba sekali lagi nyari cowok” untung temen tuh orang, jadi bisa g garok langsung di TKP wagagagag

Nah bagaimana dengan si calon kakak sendiri? So far sih dia baeeeek banget sama adenya. Nanya melulu ade lagi ngapain? Suka kiss-kiss perut bunda sambil bilang aylafyu adeee, suka ngasih nama adenya hari ini Awacu, besok Acuca, pernah juga Aris Komparayo, pas abis nonton film bolt malah minta adenya dikasih nama Bolt….guk guk dong neeeeng.

Awalnya pas memutuskan mau nambah anak, aybund emang kampanye terus sama isya soal per-ade-ade-an. Sampe beliin buku cerita ttg punya ade. Sekarang udah pindah rumah juga kita kasih dia kamar sendiri, sering bilang dia big girl, bilang nanti tolong ajarin adenya macem-macem, walau dalam hati kita agak berharap dia gak terlalu banyak nurunin ilmunya sama adenya, terutama ilmu-ilmu jail yg aybund belum temukan penangkalnya (emang racun).

To The Yellow City......again!

Ceritanya bang kribo punya sisa cuti 5hari lagi, dan akan segera hangus di bulan Maret. Secara kita bukan pegawai negeri atau bumn, rugi Bandar cuti gak diambil dong, mana ada istilah duit cuti atau semacamnya. Jadilah rencana ke jogja pun disusun. Sayangnya tumpukan uang (receh) yang sudah kami susun pun ketiup angin, mesti disumbangin ke kontraktor yg ngerenov rumah, eeeeng….. dituker semen ama bata sih sebenernya… tapi biar keren, kita anggap aja nyumbang kikikikik

Nah loh, holiday ke mana dong kita? Duit udah gak cukup buat keliling eropah (lah emang pernah cukup?) mau ke bali, gimana yah… privacy nya kurang gituh (cuing) eh abah dan eni cerita kalau abah toha (pamannya eni) mau ngawinin anaknya. Berhubung relasi keluarga amatlah dekat, tentu akan sangat pantas jika kami menghadiri perhelatan tersebut. Jadilah kami mengorbankan jatah liburan keluarga kami dengan ikut berangkat ke kuningan (baca: asiiiiiiik…. Dapet liburan gratis ke kuningaaaaaaan….. tinggal nebeng sama si eniiiiiiiii…… yuhuuuuuuu…. Frikitiiiiiw……)

Hari sabtu 6maret 2010 rombongan lenong depok berangkut. Dengan bang kribo yang memulai debutnya sebagai supir tembakan depok – kuningan. Untung perjalanan ramai, lancar, sukses, makmur. Gak ada hambatan, kecualiiiiiiii… sepanjang jalan kita semua harus denger si eneng ngomong “mana rumah abah dede??? Mana???? Isya mau mandi di kali! Kapan sampenya???? Mana rumah abah dede??? Mana??? Isya mau mandi di kali! Kapan sampenya???? Mana rumah abah dede…..” (yaaaah gitu dah ah… tau kan kira-kiranya) Yah dia gak selalu ngomong gitu sih kadang-kadang juga ngomong “ Waktu itu isya mimpi ada orang beli teh botol, orang lewat jembatan, orang pergi sekolah, orang naik angkot, orang jalan-jalan, orang lagi makan, orang ketawa-ketawa, orang nangis terus, orang dikejar-kejar……(lupa terusannya)” Dan kadang-kadang dia ngomong lagi… “mana rumah abah dede??? Mana???? Isya mau mandi di kali! Kapan sampenya???? Mana rumah abah dede??? Mana??? Isya mau mandi di kali! Kapan sampenya???? Mana rumah abah dede…..” FYI Jakarta-Cirebon 257km loh yah, belom nambah depok-jakarta dan Cirebon-kuningan. Mengkenye biarpun kita lagi berusaha ngurangin kemahiran eneng bermain game di hape, pas depok-kuningan mah seterah dah neeeeeng, maen dah ampe jebooool batrenya, asal gak pake bawel!

Sampai kuningan baru jam 2.30pm. Abah udah wanti-wanti, mau mandi air belerang di Sangkanurip. Yaaah demi abah, kami ikuti sajalah kemauannya (baca: asiiiiiiiik….. mandi aer panas gretoooooong…. Eni yang bayaaaaarrrrrr…. yuhuuuuuuu…. Frikitiiiiiw…… ). Isya yang paling ogah mandi aer anget langsung ngegeleng pas diajak, bunda juga males, perut lagi gendut ogah turun kolam. Tapiiii liat ayah asik-asikan berendem aer panas kami pun gak rela! Gak bisa diabiarkan begitu saja! Ayo neng isyaaaaaa… nyebuuuuurrrrr…..

Dari Sangkanurip udah sore, langsung menuju pusat kota kuningan. Malam itu, abah emang udah berencana mau nginep di kota kuningan, gak langsung pulkamp yang emang masih sejam lagi dari kota kuningan. Yaaah demi abah, kami ikuti sajalah kemauannya (baca: asiiiiiiiik….. nginep di hotel gretoooooong…. Eni yang bayaaaaarrrrrr…. yuhuuuuuuu…. Frikitiiiiiw…… ). Malemnya makan hucap, jalan-jalan naek delman, belanja di supermarket Surya (bedeh… orang kuningan mah gak mungkin gak kenal supermarket Surya, paling jaya dah, mana mah ada California fried chicken-nya lagih, keren kaaaaan?)

Oh iya, kita nginep di hotel Purnama, hotel paling top sekuningan, udah gak maen bintang2an lagi, langsung bulan! Purnama pula! Kamar paling topnya, dengan AC tentunya, bertarif 250ribu! Gila gak tuh! Hah? Hah? Hah? Nah kalo kita mah enggak gila, jauh2 ke kuningan, di kaki gunung Ceremai, masak nginep di kamar pake AC! Jadilah kita nginep di kamar pake kipas angin, dengan tarif gila-gilaan! 150 ribu!!! Gokil gak! Dapet nasi goreng lagih! Kalo laper tengah malem tinggal panggil “ruuuum serpiiiiisssss” makan mie goreng dan mie kuah udah abis 18 ribu!!! Aje gileeeeee!! Udah gitu malem-maleman dikit, dari ujung lorong tiba-tiba ada kakek-kakek tua yang lewat…. Wajahnya terlihat pucat dan keriput…. Kakinya tak terlihat terlalu jelas (pake sarung soalnya)… perlahan-lahan dia mendekat….. begitu sampai di hadapan kami, ia pun berkata dengan lirih…. “pijiiiiit… pijiiiiiit….” 35rebu sajah, ilang pegel-linu si supir tembakan! Gokiiiiiiiiil!


*dpn hotel purnama*


Pagi-paginya, jalanan depan hotel Purnama yang merupakan jalan protocol kota kuningan ternyata ditutup dalam rangka car free day. Aaaah cakeeeeep…. Jalan-jalan deh kita, sampe ke bagian alun-alun depan mesjid. Dulunya, di bagian alun-alun ini ada pasar sama bioskop, tapi sekarang udah dirubah jadi taman dengan desain mayan keren dan patung kuda sebagai simbol kuningan di tengahnya. Ahhh pokoknya mengingatkan kala kami pacaran di eropa dulu, nonton gladiator bareng, eh tiket abis, terpaksa beli catutan… aduh emak asiknye… nongton dua-dua-an… kayak tuan dan nyonya… di gedongaaaaaan….. (benyamin sueb mode on)

Sepanjang jalan nikmatin suasana Kuningan. Ada anak-anak main karet, main bola, lari-larian, ada juga yang naik kuda keliling taman. Satu yang paling beda, anak-anak itu bebas aja berkeliaran, gak banyak yang ditemani orang dewasa di sekitarnya, apalagi mbak-mbak berseragam putih (yang konon adalah BS). Mereka terlihat sangat independen. Tapi sayang potret kota kecil itu gak berhasil diabadikan, karena fotografer lebih memilih untuk menikmati saja, tidak mau membuang waktunya untuk membidikan kamera (baca: lupa bawa kamera, ampe hati brasa nyeseeeek banget, prasaan itu kamera udah dipacking bareng baju, tapi kenapa bisa gak adaaaaaaa *garok-garok kuda kuningan*) Puas nikmatin kota, balik ke kamar, siapin baju salin, miringin backpack….loh apa ini di kantong backpack sebelah samping? Kok sepertiiii….. digicam! Waaah hebat digicam jaman sekarang, ditinggal majikannya bisa nyusul ke Kuningan! pasti baru aja nyampe abis naek bus malem!

Agak siangan dikit langsung meluncur ke kampong halaman yang sumpe dumpe kampong nian. Masih sekitar 45menit-1jam lagi dari kota kuningan. Nah perjalanan menuju kampong tersebut yang tiada duanya indahnya. Sawah, hutan, gunung, sungai, jembatan, tanjakan, turunan, sedeeeeeep bener litanya, kayak di lukisan orang yang jago ngelukis deh. Tapi keindahan ini sifatnya relatif loh yah, kalo siang sih indah, kalo malem mah hiiiiiiiiy…. Berdoa mulu jgn sampe mobil mogok.

Sampe sono dangdutan udah dimulai. Biduan ber-rok sejengkal udah lagi disawer-sawer. Basa-basa-basi sebentar, numpang makan pastinya, langsung si eneng yang udah kangen sama sawah diajak muter-muter sawah sebelum sore menjelang. Besokannya baru berangkat mandi di kali. Walaupun gak diceritain, tau dah ah semua juga, sebelum akhirnya kita berhasil mandi di kali Cita’al, eneng mah gak berenti-berenti nagih, “ayo mandi di kali, isya mau mandi di kali, kapan mandi di kali? Yah mandi di kali yah… bundaaaaa mandi di kali”

Nah berhub kali ini mang didan sekolah, sementara keluarga nganterin penganten ke rumah mempelai wanita, jadilah aybund + isya aja nyari jalan sendiri ke kali. Jalanannya susah-susah gampang. Gampangnya, kali citaal ini letaknya di bagian bawah, dengan arus sangat deras, jadi dari jalan desa, keliatan banget, arusnya juga kedengeran, gak susah nyarinya gituh, gak ngubek-ngubek lagi. Tapiiiii….. dari jalan desa menuju kali Cita’al gak ada ‘trek resminya’ kita mesti nyusurin sawah, semi-hutan, kebon, irigasi, buat bisa sampe sana. Dan itu tuh nuruuuuuuun banget dengan curamnya. Untung ayah kribo tidak hanya ganteng dan juga berkulit eksotis, tapi dia juga sakti. Pede jaya aja bawa mak-mak bunting sama anak kucrit. Untungnya juga, mak-mak bunting dan anak kucrit itu sama-sama sadar diri, gak ada yang minta gendong ayah kribo. Perjalanan pun cukup aman damai, yaaah kecuali beberapa kali kepeleset sama kesandung, wajar laaah.


*perjalanan berat menuju Kali....sempet2nya si neng pose dulu*


Gak seperti pas ke kuningan pertama kali dulu, sekarang kuningan lagi panas-panasnya, sama aja kayak Jakarta, selalu panas terik terus gak lama ujan deres. Jadi air Cita’al enggak bikin menggigil eneng. Yang artinya eneng pun susah disuruh berhenti. Lamaaaaa banget bernangnya, sampe item deh tuh ayah (laaaaah emang duluuuuu???). Balik dari kali perjalanan pun berganti jadi nanjak, agak lebih lama daripada pas turun tadi, tapi tak disangka tetap lancar-lancar aja, neng malah kekeh mau bawa sendiri tasnya, naek sampe atas tanpa digendong sedikit pun, tinggal kakinya lecet parah gara-gara pake boot tanpa kaos kaki, kekekekek.. mangap ya neng aybund gak pernah pake boot soalnya, gak ngarti kalo bisa bikin lecet.




*dapet batuuuuuuu*


Pulang dari kali, kerjaan kita gak lain selain makan-tidur-makan-tidur. Udah tau kan yah? Makannya pake dage khas Kuningan… bedeeeeh… ayam mah kagak kita tengok dah…. Males nengoknya, jauh mesti ke kandang ayam.

Keesokannya kami pun kembali ke depok dengan hati riang dan gumbira. Diiringi tulisan “Selamat jalan” di tapal batas kota Kuningan…… (memandang ke luar jendela, rambut tertiup angin…..…. ……………………………. Puh…puh… siyal! Ada yang masuk mulut!)